Blockwood, Bandung - Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Senin (20/1/2025) malam telah menewaskan sedikitnya 25 orang dan menyebabkan 14 lainnya mengalami luka-luka. Bencana ini dipicu oleh hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam tanpa henti. Dampak dan Korban Menurut laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, selain korban jiwa, masih ada beberapa orang yang dilaporkan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim gabungan. Banyak rumah warga rusak parah, beberapa bahkan hanyut terbawa arus banjir. Longsor yang terjadi juga menimbun rumah-rumah serta fasilitas umum di beberapa desa terdampak. Sebagian besar korban ditemukan di Desa Kasimpar, salah satu wilayah yang terdampak paling parah. Beberapa korban merupakan warga yang sedang berteduh di rumah, cafe, dan pemancingan saat longsor terjadi. Bahkan, ada satu keluarga yang tewas tertimbun di dalam rumah mereka. Kesulitan Evakuasi Proses evakuasi korban mengalami kendala akibat medan yang sulit dan infrastruktur yang rusak. Jembatan utama menuju lokasi bencana putus akibat derasnya arus banjir, memaksa tim penyelamat mencari jalur alternatif yang membutuhkan waktu lebih lama. Hujan yang terus turun juga menghambat pencarian korban serta distribusi bantuan kepada warga terdampak. Sejumlah tim penyelamat dari BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan telah dikerahkan untuk membantu evakuasi. Namun, akses menuju beberapa titik longsor masih tertutup material tanah, sehingga pencarian korban harus dilakukan secara manual. Kerusakan Infrastruktur dan Dampak Sosial Kerusakan akibat bencana ini cukup luas. Selain jembatan yang rusak, jaringan listrik dan telekomunikasi di beberapa wilayah juga terputus, menyebabkan keterbatasan informasi dan komunikasi bagi warga serta tim penyelamat. Pemerintah Kabupaten Pekalongan telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari ke depan untuk mempercepat upaya penanganan bencana. Sejumlah posko darurat telah didirikan di kecamatan terdampak, termasuk di Petungkriyono, Lebakbarang, Paninggaran, dan Kandangserang. Bantuan logistik dan medis mulai disalurkan, meski masih terdapat kendala dalam distribusi akibat akses yang sulit. Imbauan Pemerintah Bupati Pekalongan, Fadia Arafiq, mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat curah hujan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. BMKG telah memperingatkan bahwa wilayah Pekalongan masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat memperburuk kondisi tanah di daerah rawan longsor. BNPB juga mengimbau warga yang berada di kawasan rawan bencana untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika hujan deras berlangsung selama lebih dari dua jam tanpa jeda. Upaya mitigasi bencana dan edukasi terkait kesiapsiagaan di wilayah rentan longsor juga terus digencarkan. Kesimpulan Bencana ini menjadi salah satu yang paling mematikan di wilayah Pekalongan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan jumlah korban terus bertambah, upaya pencarian dan penyelamatan masih berlangsung meskipun terkendala kondisi medan dan cuaca. Pemerintah dan relawan terus bekerja keras untuk menyalurkan bantuan serta memastikan keselamatan warga di daerah terdampak.